senyumlah, maka bumi akan bersorak indah
Panjimas 14-10-98 Titiek dan Titik-Titik Bisnisnya Profil Titiek Prabowo: Jaringan bisnis Titiek merentang mulai jasa keuangan hingga pertambangan. Seperti keluarga Soeharto yang lain, ia juga berbisnis dengan warna KKN.
Bagi Siti Hediati Prabowo, 39, barangkali PT Timah itu bagai bintang terang. Ketika perusahaan itu hendak go public, lewat perusahaan miliknya PT Pentasena Arthasentosa, ia tampil sebagai penjamin emisi (underwriter). Padahal, ketika itu, kalangan pelaku bursa melihat PT Timah tak ubahnya orang belum pulih dari sakit.
Maklum, sebelumnya kinerja PT Timah terpuruk dan menderita rugi.
Dan, tampilnya Titiek memang tidak begitu saja. Ia kenal dekat dengan orang-orang yang ada di dalam PT Timah. Namun, masa itu kini telah berlalu. Pentasena yang dipimpin Titiek sejak 1993 kini tengah dirundung pelbagai lilitan persoalan. Kabarnya, perusahaan sekuritas itu mempunyai kewajiban kepada PT Timah sebesar Rp28 miliar dan US$44 juta. Utang sebesar itu berasal dari promes yang diterbitkannya, yang dibeli oleh PT Timah dan kini sudah jatuh tempo. Selain itu, Pentasena juga memiliki utang-utang lain, yang karena belum mampu membayarnya sehingga perusahaan sekuritas itu perlu mengajukan roll-over. Ya, perusahaan ini tengah kelimpungan seiring jatuhnya Soeharto sebagai patron kekuatan bisnisnya. Tingkat keuntungan anjlok sampai hanya Rp853 juta dari Rp4,5 miliar tahun lalu. Kesulitan cash flow itu juga telah mengakibatkan Pentasena harus merengek kepada perusahaan dana pensiun untuk melakukan repurchased order (repo). Sayang, vice-president divisi riset Pentasena, Mohammad Syahrial, menolak memberi konfirmasi soal kinerja Pentasena ini.
Namun terlepas dari itu, perjalanan Titiek di bidang keuangan memang cukup panjang. Telah banyak perusahaan yang sebelumnya ia geluti, walau sekadar pemegang saham. Setidaknya ia memiliki 13 perusahaan jasa keuangan dan investasi. Di bidang keuangan ia termasuk pemegang saham di Bank Industri (terlikuidasi), Bank Putera Sukapura (kini sudah berpindah tangan ke Grup Texmaco), dan Bank Universal.
Jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga ikut terjun ke bidang jasa investasi. Setidaknya, ia memiliki PT Bhakti Investama, PT Maharani Intifinance, PT Bhineka Multi Corporation, PT Bhineka Arthatama (fund manager), PT Penta Martin Bierbaum (money broker). Titiek juga bergerak di bidang asuransi dengan
bendera Penta Life Insurance, sedangkan di bidang kredit ia memiliki PT Emas Lestari yang mengkhususkan untuk menangani leasing.
Di luar itu, Titiek merambah juga di bidang perdagangan, perkebunan, kimia, dan konstruksi. Di bidang konstruksi ia juga memiliki saham, termasuk bidang properti untuk hotel dan resort. Di bidang jasa transportasi, istri bekas Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto itu bergerak dengan perusahaan Daya Tata Matra.
Menurut buku George Junus Aditjondro, Dari Soeharto ke Habibie, Titiek juga ikut terlibat di sejumlah yayasan ABRI. Tentu, karena peran suaminya, Prabowo. Antara lain Yayasan Badan Intelijen ABRI, Yayasan Korps Baret Merah yang menjadi pemegang saham PT Kobame, serta Yayasan Dharma Putera Kostrad dan Yayasan Palem yang menangani Institute for Policy Studies (IPS).
Selain itu, masih ada beberapa yayasan lain yang juga diketuai Titiek. Mulai yang berhubungan dengan tentara sampai yang berkaitan dengan para anggota masyarakat Timor Timur yang pernah ikut membantu Prabowo. Juga yayasan yang menangani olahraga dan pasar modal. Yayasan Masyarakat Pasar Modal merupakan badan hukum dari Capital Market Society yang ketuanya tak lain Titiek sendiri. Lewat perusahaan pialang bursa PT Maharani Intifinance, Titiek tadinya terjun aktif di Bursa Efek Jakarta. Belakangan Titiek mengundurkan diri dari perusahaan ini, dan dari masyarakat pasar modal itu. Lagi-lagi, Mohammad Syahrial menolak memberi konfirmasi yang berkaitan dengan Titiek ini.
Di pertambangan, Titiek mempunyai pertambangan batu granit dengan konsesi di Tanjungbalai Karimun, Riau, dengan menggunakan PT Bukit Granit Mining Mandiri. Konon, lokasi ini merupakan tempat bebatuan tertua di Indonesia, yang diperkirakan mengandung cadangan granit 200 juta metrik ton. Itu artinya, dengan
kapasitas penggalian 3 juta metrik ton per tahun, cadangan itu baru habis dikeruk dalam waktu 70 tahun. Dari mana datangnya konsesi itu? Ini yang masih misteri. Tapi, ada kemungkinan juga karena kedekatan dengan pejabat di Departemen Pertambangan dan Energi.
Bila ditotal, jumlah perusahaan yang dikelola Titiek melebihi 35 titik perusahaan, merambah dari keuangan sampai pertambangan. Semua ini dikelola kelompok Maharani yang menjadi holding. Tapi, kabarnya Titiek tidak lagi mengurus holding ini. Pengunduran ini bagai mengikuti jejak ayahandanya, Soeharto, yang lengser.
Bambang Trihatmodjo dan Tommy Mandala Putera juga sudah meninggalkan kerajaan bisnisnya.
Dibandingkan dengan kakaknya, Siti Hardiyanti Rukmana, bidang yang digeluti Titiek mungkin baru setengahnya. Meski begitu, sebelum 21 Mei, ia termasuk orang yang menjadi rebutan untuk didekati kalangan bisnis. Ya, mereka berharap, dengan bisnis bersama Titiek, semua urusan menjadi lancar. Entah, sekarang.
Pracoyo dan Rifwan Hendri